prims.multimedia.com
Jakarta, 17 Oktober 2025 — Transformasi digital kini menjadi pendorong utama dalam meningkatkan daya saing industri di Indonesia. Berbagai sektor mulai dari manufaktur, logistik, energi, hingga UMKM, tengah beradaptasi dengan penerapan teknologi digital untuk mempercepat proses produksi, efisiensi biaya, serta peningkatan kualitas layanan.
Menurut data Kementerian Perindustrian, lebih dari 65% perusahaan manufaktur besar di Indonesia telah mengadopsi sistem berbasis digital seperti Internet of Things (IoT), Artificial Intelligence (AI), dan cloud computing dalam operasional mereka. Langkah ini dinilai mampu meningkatkan efisiensi hingga 30% dan mengurangi potensi kesalahan manusia dalam rantai produksi.
“Transformasi digital bukan lagi pilihan, melainkan keharusan bagi industri yang ingin bertahan di tengah kompetisi global,” ujar Menteri Perindustrian, Agus Gumiwang Kartasasmita. Ia menambahkan bahwa pemerintah terus memperkuat program Making Indonesia 4.0 dengan dukungan regulasi, pelatihan tenaga kerja digital, serta insentif bagi perusahaan yang berinvestasi dalam teknologi.
Selain perusahaan besar, sektor UMKM juga mulai beralih ke digital melalui platform e-commerce, sistem keuangan digital, dan pemasaran berbasis media sosial. Hal ini terbukti membantu pelaku usaha memperluas pasar dan meningkatkan penjualan secara signifikan.
Namun, tantangan masih ada. Keterbatasan infrastruktur digital, rendahnya literasi teknologi di beberapa daerah, serta kebutuhan akan keamanan siber menjadi perhatian utama dalam proses transformasi ini. Pemerintah bersama sektor swasta diharapkan dapat memperkuat kolaborasi untuk memastikan proses digitalisasi berjalan inklusif dan berkelanjutan.
Transformasi digital di industri bukan sekadar penggunaan teknologi, tetapi juga perubahan pola pikir, budaya kerja, dan strategi bisnis. Dengan langkah yang tepat, Indonesia berpotensi menjadi salah satu pusat industri berbasis teknologi terbesar di kawasan Asia Tenggara.














